Kamis, 23 Februari 2017

Lebih Bermanfaat Di Bondowoso



TAK sengaja dan harus menjadi pilihan.Itulah sepenggal cerita drh Cendy Hendriawan bertugas di Bondowoso.Bagi dia hidup di Bondowoso jauh lebih bermanfaat dan barokah dari pada hadup kota asalnya Surabaya.Sebab,ada transformasi ilmu kepada masyarakat Bondowoso.
Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian ini pertama kali menginjakkan kakinya di Bondowoso pada 2005.


Ilmunya Bermanfaat dan Barokah


Tentu tujuanya bukan Bondowoso melainkan Jember. Waktu itu saya mengantarkan teman daftar CPNS di Bondowoso," ujarnya. Target Cendy adalah menjadi CPNS di Jember, sayang di kota Suwar-Suwir tidak ada lowongan untuk dokter hewan melainkan sarjana kedokteran hewan. Hanya membawa ijazah dikter hewan," ungkapnya.

Kurang satu hari masa pendaf, Cendy ingat di Bondowoso membutuhkan dokter hewan. sehingga dia mengubungi temannya dan mendaftar. Masih ingat waktu itu daftarnya di BKD ujarnya. Alumnus Kedokteran Hewan Unair itu pun menjadi orang beruntung diterima menjadi CPNS Pemkab Bondowoso.

Keputusannya hijrah ke Kota Gerbong Maut ini pun sempat diselesaikan oleh rekan-rekannya seprofesi di Surabaya. "Teman-teman banyak yang menyayangkan, karena waktu itu gaji di surabaya sudah punya klinik sendiri dan gajinya jauh lebih besar bisa sampai empat kali lipat," paparnya.

Dengan gaji sebagai CPNS perbulan Rp 800 ribu, pria asal Rungkut Surabaya itu berani memutuskan. "Saya yakin yang kuasa menunjukan jalan agar ke Bondowoso. Karena, dari proses pendaftaran dipermudah juga satu kali daftar langsung diterima. Teman saya tujuh kali tidak diterima. Mungkin itu sudah jalannya," tambahnya.

Gaji tak sampai sejuta dalam sebulan sudah barang tentu tak cukup, apalagi setiap minggu di Surabaya plus tiap hari pulang pergi Bondowoso - Jember. Maklum dia memilih kost di Jember kala itu. Agar mencukupi kebutuhan sehari-hari tabungan Cendy selama kerja di Surabaya mulai habis.

Tabungan yang ludes tersebut, Cendy merasa itu adalah jalannya. Sebab, tabungan itu bisa kembali lagi bahkan lebih banyak lagi saat ada virus flu burung marak di Indonesia. Pria 46 ini pun diberi pelatuhan dan jadi koordinator mengatasi flu burung di Bondowoso. "Ahamdulillah waktu flu burung ada gaji plus honor tambahan dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa,Red) imbuhnya.

Cendy masih ingat betul pertama kali mengatasi flu burung di Bondowoso. Dengan minim perlindungan diri termasuk sarung tangan. "Belum sampai BOndowoso sudah ada laporan ayam mati tiba-tiba. Mau tidak mau ya terjun karena tugas," terangnya. Jika dibiarkan bisa tidak diketahui bagaimana penyebaran virus flu burung itu, tapi jika ditangani berisiko tertular virus flu burung. Buah Simalakama. Waktu itu pakai sarung tangan tukang dari kain, karena tidak ada perlengkapan proteksi," ungkapnya.

Hingga kini Cendy bersyukur masih hidup tak kena virus flu burung. Intinya menurut dia tugas di Bondowoso ini banyak manfaat, barokah bahkan pahala. Sebab, Alumnus SMA Trimurti Surabaya itu bisa tranformasi ilmu ke masyarakat. "Kalau di Surabaya ada hewan sakit, disuntik dan sembuh ya sudah," paparnya. Tapi di Bondowoso pahalanya besar, masyarakat membawa ilmu tentang kesehatan hewan darinya. (dwi/wah)



Sumber : Jawa Pos Radar Ijen 09 Februari 2017
Ditulis Kembali Oleh : (IS)

1 komentar: