Jumat, 17 Februari 2017

Jiwa Kemanusiaan dari Perawat


MELIHAT orang tersenyum setelah sakit itu menjadi kepuasan batin tersendiri. Itulah yang dirasajan Arina Wijayanti yang menggeluti perawat sebagai profesinya. Perempuan asal Klabang itu mengaku cita-citannya menjadi perawat karena ingin melihat orang sakit sembuh dan kembali tersenyum. Bagi dia perawat tak hanya tugas atau kerja, tapi rasa kemanusiaan.


Setiap harinya Arina kerja sebagai perawat Rumah Sakit Kusuma Bhakti. Setiap ada pasien yang membutuhkan bantuan, dia pun dengan siap berangkat. Tak hanya siap, senyum, iklas, dan profesional tetap dijalankan sebagai petugas medis.

Itupun tak cukup, menurut Arina, sebagai perawat juga harus dibarengi oleh akhlak. Sehingga, pasien pun tak hanya mendapatkan menfaat tapi juga ada inspirasi yang dibawa pulang ke rumah.

Perempuan 29 tahun ini mengaku cita-cita menjadi perawat itu muncul saat duduk di bangku MAN 2 Situbondo. "Waktu itu ada saudara saya sakit, ada petugas medis yang sabar dan tulus merawat hingga sembuh," ungkapnya. Ternyata petugas medis itu adalah seorang perawat yang membuat saudaranya itu sembuh dan kembali tersenyum.

Arina menempuh pendidikan akper Unmuh Jember tahun 2015 kemarin. Dari sana, skill medis mulai terasa dan jiwa kemanusian pun mulai di tempat diperguruan tinggi itu. Sehingga, kata dia, kerja sebagai perawat tak hanya mengaplikasikan ilmunya tapi juga meneruskan rasa kemanusian itu. "Jika perawat tidak disadari oleh rasa kemanusiannya, hanya sebatas kerja saja," terangnya. Dia yakin seluruh perawat itu tinggi jiwa sosialnya, sebab orang yang tak dikenal pun dia rawat, apalagi yang dikenal.

Bekerja di rumah sakit, apalagi perawat Arina harus terus sehat. Jika badannya tak fit pun dia harus siap-siap menghadapi penyakit. "Namanya kerja di rumah sakit ya tempatnya orang sakit," ujarnya. Langkah terbaik untuk badan tetap fit adalah istirahat yang cukup dan makan," terangnya. Jika, perawat itu sakit flu saja bisa menularkan ke pasien lain yang sebenarnya tidak sakit flu.

Dia berharap untuk keluarga pasien pun saat membesuk keluarganya setidaknya mereka sehat dan jangan membesuk jika sakit. Karena lagi-lagi setelah membesuk anggota keluarga tak sehat itu bisa jatuh sakit. Selain itu alangkah baiknya, sebelum dan sesudah menjenguk mencuci tangan baik dengan cairan antiseptik ataupun sabun. Ini untuk mencegah penularan penyakit. (dwi/wah)

Sumber : Jawa Pos Radar Ijen, 26 Januari 2017
disalin oleh :(er)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar