Rabu, 01 Februari 2017

Ya Kuliah, Ya kerja

KULIAH dan kerja jadi masalah bagi Diana Safiti. Mahasiswa Universitas Manala Jember ini justru merasa mendapat berkat dan menuntut ilmu dan mencari uang, Sebab membuatnya kian dewasa untuk manajeman waktu dan keuangan.

Awalnya, perempuan 20 tahun ini pun tak ada bayangan setelah lulus SMA akan kuliah sambil bekerja. Diawal-awal kuliah tahun 2014 kemarin dari manis asal Badean Bondowoso sama seperti mahasiswa pada umumnyahanya kuliah sa. "Pertama kuliah ambil kuliah pagi.



Hambatan Terbesar adalah Konsentrasi

Terus ambil kuliahn malam dihitung-hitung biayanya sama kalu kuliah malm tidak repot-repot kost pulangh pergi saja Bondowoso-Jember," jelasnya.

Berangkat dari kuliah malam itulah ada banyak waktu senggang dan dia memutuskna untuk bekerja sebagai kasir gerai potong ramburt dibadean. Jika kuliah pagi untuk kerja pun susah, karena kerja itu lebih banyak pada pagi hari hingga sore hari. Hambatan terbesar kuliah sambil kerja adalah kosentrasi. "Apalagi saya kan kuliah malam, setelah kerja itu kan capek konsentrasi turun. Kaang yang mengantuk," terangnya.

Dari Hambatan tersebut perempuan berkerud ung ini kian mengupragade dirinya. Baik manajemen waktu yang baik, keungan serta manajemen istirahat aga konsentrasi dibangku kuliah tatak terganggu. "Terpenting jaga tidur dan minum air puth," terangnya. Asyikya kuliah malam adalamahasiswa berbagi latar belakang. "Rata-rata kuliah malam itu mahasiswanya sudah tua dan bekerja. Jadi Curhatnya pun bermacam-macam dari target kerjaan menghadapi bos, Sehingga dari sana dapat pelajaran berharga terangnya.

Selama perjalanan pulang pergi Jember-Bondowoso, ada rasa yang tidak aman bagi disana. Meski, belumpernah terjadi tindakan kriminal di jalan, dia pernah dibuntutui dua dua kali oleh pengendara motor. "Ya tersa kalu itu diikuti. Saya pelan ikut pelan, ngebut juga ikut ngebut," terangnya.

sehingga, dia berharapan penerangan jalan umum (PJU) di Bondowoso dibenahi lagi, meski jalan menuju Jember semua ada PJU, terkadang mati ampu. "Di Grujugan sekitar dekat hotel Asri sering mati lampu," jelasnya.

Bebicra perkuliahan, menurut Diana sekarang rasanya kampus itu orang-orang kaya saja. Alumnus SMAN Tenggarangtersebu gagal kuliah di Politeknik Negeri Jember(Polije) jurusan gizi klinik karena tersandat biaya. ak hanya di Polije saja, Dina pun merasakan masuk Universitas jember (Unei) juga mahal. "Di Polije persemester Rp 6 juta di Unej juga sekitar segitu," terangnya.

Tak kuat dengan biaya yabng mahal tersebut juga membuat sedih ibunda Diana karena tak mampu menguliahkan dikampus yang diinginkan anak perempuannya. Meski, begitu tak membuat diana patah arang dan tetap meniti sarjana.(dwi/wah)

Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 5 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar