
AJENG Luki Novalia sudah berusia 18 dan kini duduk di kelas XII SMA. Meski, sudah remaja dia tetap membutuhkan suport orang tua di segala aktifitas maupun hobinya. Sehingga, bagi dia sosok orang tua itu love laugh atau cinta dan tawa.
Bagi dia, makna love laugh itu karena cinta yang tulus itu dari mama dan ayah."Gak ada yang bisa setulus ayah mama,"ujarnya. Sementara yang bikin dia terus senang dan tertawa lepas pun juga dari kedua orang tuannya. Bahkan, hingga dewasa ini dia tetap ditemani orang tua jika beraktivitas di luar sekolah.
Pede Jika Dimotivasi Orang Tua
"Kalau mau fashion show ya ada mama, hunting foto juga ditemani,"katanya.Jika banyak anak remaja itu ada rasa canggung dan risih saat aktifitas dengan teman-temannya, justru bagi Luki lebih nyaman ditemani orang tua."Rasanya bingung jika gak ada orang tua,"tambahnya. Menurut dia, berilah kesempatan orang tua itu ikut aktifitas anaknya sehari-hari termasuk jalan-jalan dengan teman-teman. Sebab, namanya orang tua pun juga ingin memastikan buah hatinya aman dan dapat lebih mengerti lagi kondisi anaknya. Sehingga, menurut Luki, untuk tumbuh kembang dukungan orang tua sangat diperlukan.
Perempuan asal Badean ini masih ingat berapa besar afek yang ditimbulkan berkat dukungan orang tuannya saat masih TK."Waktu itu itu saya meyoret, dan guru tahu potensi untuk ikut lomba fashion show. Padahal, waktu itu tidak mau ikut,"terangnya. Berkat dukungan orang tuanya itu rasa percaya diri tampil di cat walk bertambah."Sebenarnya sudah terbiasa dilihat banyak orang tapi kondisinya beda antara mayoret dan fashion show,"paparnya.
=Bahkan, saat tampil Luki masih bngung mencari dimana duduk mamanya itu. Perempuan yang bercita-cita masuk stitut Kesenian Jakarta (IKJ) ini, langsung percaya diri saat melihat dukungan orang tua."Rasanya bakat tampil di panggung itu keluar, dan gerakan demi gerakan ya bebas,"ungkapnya.
=Alumnus SMPN 2 Bondowoso ini pun tak sepakat jika orang tua terlalu khawatir dengan anaknya yang tak boleh keluar dari rumah. Sebab, menurut dia namanya prestasi itu tak boleh keluar dari rumah. Sebab, menurut dia namanya prestasi itu tak melulu akademik, tapi juga ada prestasi non akademik." Kalau di rumah terus anak ini jadi kuper dan jiwa sosialnya pun juga rendah,"terang Luki yang pernah jadi Duta Tari Bondowoso pada 2013 ini. (dwi/wah)
Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 18 Februari 2017
disalin kembali oleh: JSR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar