Jumat, 17 Februari 2017

Membatik Itu Latih Kesabaran


USAHA
batik tulis hanya memperkuat brand bahwa Bondowoso banyak orang-orang kreatif di dunia batik. Tapi, dari batik dapat mensejahterahkan masyarakat

sekitar. Seperti yang disarankan oleh Sri Astutik Wahyu Ningtyas, salah seorang pekerja Batik maesan itu.

Perempuan 21 tahun ini mengaku sebelum kerja mencanting batik, adalah ibu rumah tangga biasa dan pemasukan keluarga dari suaminya yang kerja kuli bangunan di

Tamanan. Sudah setahun bekerja sebagai canting batik, setidaknya ada penghasilan tambahan bagi keluarganya.



Meningkatkan Taraf Hidup Keluarga

Sehingga, usaha-usaha seperti ini tentu menjadi solusi warga pedesaan seperti Astutik itu. "Kalau bosen mencanting di sini ya bisa di rumah," terangnya.

Dia mengaku pengalaman membatik tersebut baru diterima dari Batik Maesan. "Sebelumnya ya gak pernah, baru belajar ya disini," ungkapnya. Awal kali membatik sekitar setahun yang lalu tentu perlu perjuangan ekstra terutama kesabaran. "Kalau dulu gak cepet seperti ini, lama sekali. Sampai pusing," katanya.

Lama-kelamaan pun terbiasa dan bikin ketagihan. Ya membatik menurut Astusik adalah pekerjaan yang menyenangkan, bahkan seperti kembali ke masa SD atau TK. Yakni, belajar mengambar, menjiplak dan mewarnai. Tapi medianya bukan kertas, melainkan kain.

Untuk satu lember kain batik dengan motifnya full, setidaknya memakan waktu iga hari dan paling lama lima hari. Sementara jika motifnya hanya di pinggir saja, dalam sehari sudah selesai. Menurut dia manfaat membatik bagi pekerja selain dapat penghasilan adalah kesabaran.

Sabar dan sabar adalah kunci dalam proses membatok, apalagi yang dikerjaan Astutik adalah batik tulis sehingga untuk belajar sabar itu bisa lewat membatik. Sehingga, tak salah harga batik tulis itu lebih mahal dari pada batik cap atau sablon. "Kalau ingin belajar sabar yang belajar membatik," pungkasnya. (dwi/wah)



Sumber : Jawa Pos Radar Ijen 25 Januari 2017
Ditulis Kembali Oleh : (IS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar