Senin, 20 Februari 2017

Suka Kegiatan Sosial


    KEGIATAN berbasis lapangan menjadi salah satu pekertjaan yang di emban Elisa Widi Haryani. Sebab setahun lalu di terpilih menjadi petugas Tenaga Kesehatan Sosial Kecamatan (TKSK). Dia bertugas di tempat tinggalnaya Kecamatan Curahdami.
    Kebetulan, pekerjaannya saat ini berjalan lurus dengan hobinya yang melakukan kegiatan sosial. Sehingga ketika ketikas dia bertugas sebagai TKSK, dia tidak berasa berat. Hanya saja, banyak tatangan yang ditemui. "Kami melakukan pendampingan, sedangkan tipe masyarakat yang didampingi berbeda-beda, sehingga diperlukan komunikasi yang ekstra," terangnya.


Tanamkan Semangat Pantang Menyerah

    Pada kegiatannya itu, dia mengemban amanah dari kementrian sosial  untuk mendapingi masyarakat penyandangan masalah kesejahteraan sosial. Diantaranya adalah keluarga yang karena suatu kesulitan tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Lantas keluarga itu tidak dapat menjalin hubungan yang serasi dankreatif dengan lingkungannya, sehingga tak dapat memnuhi kebutuhan hidupnya secara memadai dan wajar. "Hambatan atau kesulitan itu dapat berupa kemiskinan, kecacatan, ketunaan sosial maupun perubahan lingkungan yang kurang mendukung atau menguntungkan," terangnya.
    Selama setahun ini, sudah banyak masyarakat yang didampinginya. Bahkan selain kemiskinan, ada juga masyarakat yang tengah bermasalah dengan hukum. Dengan segala kemampuannyanya, dia bisa melakukan pendampingan. "Dibutuhkan  kesabaran untuk membantu penyandang masalah kesejahteraan sosial yang kami layani," ujarnya.
    Hal itu karena tugasnya tersebut berkaitan dengan hubungan sesama masyarakat. Dia mencontohkan, berbagai masalah itu salah satunya yang dia tuntaskan adalah masalah kekerasan seksual kepada anak-anak dibawah umur. Karena permasalahannya tentang pencabulan, dia sangat hati-hati. "Sebab kasus seperti itu adalah kasus yang sangat privasi, kebanyakan pihak keluarga menutup dirin, sehhingga perlu ketelatenan," akunya.
    Permasalahan lainnya adalah pendapingan kepada para disabilitas, Orang Dengan Ganggu Jiwa (ODGJ). Perempuan kelahiran 7 April 1978 itu mengaku, dalam banyak hal dia harus belajar. Sebab kondisi lapangan tidak semuda ilmu teori. Dalam setahun ini, dia banyak belajar tentang ilmu sosial. "Seperti halnya ada ODGJ yang mau menggorok lehernya sendiri, namun semuanya kami bisa mendapinginya," ujarnya.
    Khusus untuk gangguan kejiawaan, selama ini pihaknya telah  bekerjasama dengan rumah sakit bagian poli jiwa. Sehingga tugasnya adalah mendampingi masyarakat itu, untuk mendapatkan perawatan poli jiwa. "Jadi namanya pendampingan, selain kepada yang bersangkutan kjuga kepada para keluarganya," paparnya.
    Kedepan dirinya ingin terus mengembangkan diri. Ditengah tugas sebagai ibu rumah tangga, ibu dua anak ini ingin terus menjadi orang yang bermanfaat. Utamanya, bagi masyarakat Curah dami. Karena itu, dia ingin menamnamkan jiwa semangat yang pantang menyerah. (hud/wah)



Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen, 30 Januari 2017
Ditulis kembali oleh : nbl

Tidak ada komentar:

Posting Komentar