SIAP bertugas dipedesaan menjadi konsekuensi yang harus diterima bidan saperti Dwi Yuni. Menjadi bidan di Pukesmas sumber Wringin, dia merasa makin sayang dengan ibunya. Sebab, saat membantu persalinan selalu ingat perjuangan ibunya.
Yuni menempa pendidikan kebidanan di akbid Dharma Praja. Dia paham dengan cita-citanya sebagai petugas medis, tak hanya melayani orang sakit saja tapi juga siap tugas di pedasaan seperti Sumber Wringin.
Semakin Menyanyagi Sang Bunda
Apalagi, orang sakit itu tidak pilih-pilih, orang kaya miskin juga sakit termasuk orang pedesaan dan perkotaan. Dengan pembangunan daerah ini dari pembangunan desa, sudah pasti pelayanan kesehatan tak boleh dikesampingkan.Perempuan 24 tahun itu mengaku petugas medis yang berada di desa pun sangat diperlukan. Sebab, bisa jadi pertolongan cepat dari pada masyarakat desa turun ke kota. Sehingga, kata dia, entah itu dokter, perawat dan bidan jika ditugaskan dimana pun setidaknya harus sigap dan pula.
Yuni pun merasa tugas di desa itu rasa membekas. Saya dulu tugas di Pakem sampai sekarang masih ada kenangan masih yang membekas,"terangnya. Masyarakat desa yang tetap mempertahankan kebudayaan serta kulturnya membuat sesama masyarakat itu guyup dan gotong royong. Aspek sosial itulah yang diperkotaan makin jarang ditemukan. Dia berharap desa ini makin maju tapi kultur masyarakatnya tetap.
Berprofesi sebagai bidan, Yuni paham profesinya itu adalah pekerjaan yang sangat mulia. Apalagi, tugas utama bidan membantu proses persalinan. "Ibu yang melahirkan anaknya itu taruhannya nyawa," paparnya. Pertama kali membantu persalinan. Yuni pun langsung ingat dengan ibunya sendiri.
Banyak darah yang dikeluarkan, jeritan ibu dan menangis bayi membuat Yuni pun sempat meneteskan air mata. Pengalaman pertama kali bantu persalinan itu tak akan dilupakannya. Bahkan, bertugas menjadi bidan membuat perempuan asal Klabang ini makin sayang dengan ibunya. "Perjuangan seorang ibu itu sangat luar biasa, saya ingat perjuangan ibu saya saat melahirkan saya dulu," tambahnya.
Menurut dia, sejak dikandungan ibu sudah menjaga kandungannya selama sembilan bulan, Saat melahirkan pun mereka berjuang dengan rasa sakit itu, bahkan setelah melahirkan tugas ibu belum selesai. Sehingga, Yuni merasa bersyukur jadi seorang bidan. setidaknya bisa membalas budi ibunya dulu saat melahirkan. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos Radar Ijen 11 Februari 2017
Ditulis Kembali Oleh : (Is)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar