Senin, 13 Februari 2017

Asyiknya Hidroponik


MENANAM tak harus pakai  tanah, dengan teknik hidroponik membuat orang makin senang bercocok tanam. seperti yang Margareth Je5ane Clara Balun ini, dia merasakan menanam tidak harus belepotan kotoran.
Jeanne, mendapatkan pelajaran hidroponik di Gereja Katolik Bondowoso (Gekabo) beberapa bulan lalu. Ada hal yang membuat dia terinspirasi dan kaget." Ternyata tanam sesuatu itu tak harus pakai tanah. Pakai air ternyata bisa," ujarnya. Mengamati dan memperhatian pemateri, ternyata air salah satu unsur penting untuk menumbuhan kecambahan.


Hiasan Rumah Sekali Kemandirian Pangan

Tapi saat besar nanti, tentu tak sembarangan air tapi air yang punya nutrisi agar tidak layu dan tetap segar.
Pelajar SMAN 2 ini pun ingat saat duduk di bangku SD mengenai hidroponik. Jika SD belajar tanaman diberikan tugas biji kacang hijau diberi kapas dan air ternyata tumbuh juga. Sayangnya waktu itu pelajaran sampai di sana saja, tidak sampai dibesarkan dan layak konsumsi. Dia sendiri masih beruntung, saat kecil mendapatkan pelajaran itu sehingga saat penyampaian materi hidroponik setidaknya tahu.
Paling asyik menanam dengan teknik hidroponik bagi anak muda seperti Jeanne adalah tak kotor-kotoran."Enak hidroponik, gak ketemu sama cacing dan kutu. Jadi gak kotor-kotoran lagi," paparnya. Hingga saat ini Jeane masih terus belajar hidroponik di Gejabo dan punya pekerjaan rumah mengembangkan tanaman hidroponik di kediamannya.
Jika di kota-kota besar hidrioponik menjadi tren dikalangan ibu-ibu rumah tangga dan di kembangkan di rumahnya sendiri. Apalagi, diperkotaan lahannya terbatas dan mencari tanah pun sulit. Untuk warga Bondowoso, menurutnya masih beruntung. Sebab masih banyak lahan dan tanah."Tapi ada juga rumah-rumah yang minim tanah di Bondowoso," ujarnya.
Mengembangkan hidroponik di rumah tak hanya untuk hiasan ruamh saja, tapi sekaligus untuk kemandirian pangan juga. Perempuan asal Badean ini menambahkan, saat ini harga cabai begitu mahal dan sayur pun sering naik musim penghujan datang. Jika, setiap rumah punya tanaman cabai dan sayur-mayur, tak ada kata galau ibu rumah tangga di Bondowoso.
Menurut Jeanne, hidroponik adalah jawaban bagaimana caranya anak muda ini senang bercocok tanam."Anak muda itu gak mau jadi petani, karena kotor gak keren. Apalagi yang melakukan,"ujarnya.
Menjadi petani tentu harus ada di pemuda Bondowoso, sebab sebagian besar masyarakat Bondowoso bergantung dari sektor pertanian. yang sudah tua itu tak kuat lagi bertani, lantas siapa yang melanjutkan kalau tidak anaknya sendiri. (dwi/wah)

Sumber: Jawa Pos Radar Ijen, 12 JAnuari 2017
disalin oleh: (JSR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar