NAMA Prajekan rasanya akan terus diingat oleh Nina Amalia. Mahasiswi Farmasi Unej asal Denpasar ini setidaknya sudah sebulan lebih tinggal dan menyelesaikan KKN di sana. Saat tingga di Prajekan, dia mengaku benar-benar menimati momen KKN dan tinggal di desa tersebut. "Enaknya ya punya teman baru," ujarnya.
Terkesan dengan Kreativas Warganya
Awal kali KKN dengan teman baru, perlu adanya adaptasi. Tapi adaptasi itu juga bagian hal yang indah di KKN. Apalagi, teman KKN ada anak keilmuan sosial. "Jadi tahu cara kerja anak sosial itu seperti apa, cara belajarnya, dan kerjanya. Jelas beda dengan anak-anak eksak," imbuhnya.Bahkan, saat menjalankan program KKN tak sedikit perbedaan pendapat pendapat itu muncul. Paling sering adalah program lomba desain tempat sampah dari bahan bekas. "Awalnya tingkat Desa Prajekan Lor dan Kidul saja. Tapi berubah jadi lebih besar se Kecamatan Prajekan," terangnya. Repotnya, adalah masalah pendaan untuk serangkaian acara itu. "H-1 masih mencari dana. Alhamdulillah semua bisa, berkat bantuan masyarakat dan kades," tambahnya. Sehingga, kata dia, membuat acara itu jangan berfikir susahnya saja tapi suksesnya dan bagaiman dampak ke masyarakat.
Perempuan kelahiran Denpasar, 11 April 1995 mengaku lomba membuat tempat sampah dari bahan bekas itu pernah ada di daerah lain. "Pernah searcing seperti itu ada. Lupa daerah mana yang jelas tetap dari Pulau Jawa. Tapi, lebih semarak dan kreatif dari Prajekan," ujarnya.
Dari kegiatan itu, Nina menilai orang-orang Prajekan Prajekan itu kreatif. Tak diduga, ragam bentuktempat sampah dari bahan bekas saja. Ada yang memanfaatkan kantong kresek, potongan kaleng kue, kaleng cat, hingga ada yang membentuk semacam singo ulung kesenian khas Bondowoso. Bahkan, kreatifnya orang Prajekan itu rasanya komplek. Ada orang-orang pekerja keras, ada juga orang yang punya ide brillian. Sehingga, perpaduan itu menjadi kecamatan perbatasan dengan Situbondo itu selalu dikenangn oleh Nina.
Dia berharap dari kegiatan memaksimalkan bahan bekas atau sampah menjadikan tempat sampah terus berjalan. "Tak melulu bahan bekas dijadikan tempat sampah. Tapi bisa untuk kerajinan tangan atau funiture. Bisa mengurangi sampah dan menambah penghasilan masyarakat setempat," ujarnya. Apalagi, masyarakat secara luas kesadaran lingkungsn kisn membaik sehingga produk handmade terbuat dari bahan bekas mulai banyak peminatnya. Hal itu berkaca dari kegiatan di Unej. Banyak mahasiswa itu suka dengan aksesoris dari bahan bekas. (dwi/wah)
Sumber : Jawa Pos - Radar Ijen, 28 Februari 2017
Ditulis Kembali oleh : nbl

Tidak ada komentar:
Posting Komentar